TES PAI KLS 7

Kamis, 01 April 2010

KERAMAT SYEKH ABDUL MUHYI Bag. 2

KERAMAT SYEKH ABDUL MUHYI
PAMIJAHAN, TASIKMALAYA
BAG II

GENEALOGI SYEKH ABDUL MUHYI
Berbeda dengan tokoh-tokoh sufi Melayu lainnya, aspek kesejarahan Syekh Abdul Muhyi sampai sekarang masih belum tuntas diungkapkan, baik riwayat hidup maupun perannya dalam penyebaran Islam di Jawa Barat. Hal itu salah satunya disebabkan oleh kesulitan memperoleh sumber-sumber sejarah yang berkaitan dengan tokoh tersebut. Kalaupun ada, sebagian besar masih berada di tangan penduduk atau tersimpan di perpustakaan-perpustakaan Eropa misalnya di Leiden, Belanda.


Beruntunglah, bahwa Ahmad Mansur Suryanegara (1990), pernah mengungkapkan kandungan manuskrip yang diberi judul Kitab Istiqlal Thariqah Qadariyah Naqsabandiyah (KITQN). Naskah tersebut sesungguhnya tidak mengisahkan peristiwa sejarah, melainkan merupakan sebuah genealogi (pohon keturunan). Pada bagian-bagian yang dianggap penting oleh penulisnya, terdapat catatan pengalaman sejarah dari setiap tokoh yang dikisahkan. Naskah genealogi tersebut menarik garis keturunan dari dua cabang. Pada satu cabang terkait dengan garis keturunan ulama yang bersumber pada keluarga Nabu Muhammad dan cabang lainnya terkait dengan garis keturunan umara, yakni raja-raja yang pernah memerintah di Pulau Jawa.

Bersumber dari naskah KITQN tersebut dapat diketahui bahwa Syekh Abdul Muhyi dari pihak ibu adalah keturunan Nabi sedangkan dari pihak bapak adalah keturunan raja-raja Jawa khususnya dari kerajaan Galuh (Jawa Barat). Penarikan garis keturunan ke atas ini tampaknya dimaksudkan untuk memberikan legitimasi ketokohannya sebagai ulama. Tetapi kepentingan teks tersebut bukan terletak pada kebenaran sumber sejarah, tetapi harus dilihat sebagai trend sejarah para wali yang senantiasa menarik garis keturunan pada Rasulullah. Karena kecenderungan ini, para sosiolog kerap memandangnya sebagai keturunan spiritual; sebab sang wali berperan sebagai penerus risalah nabi.

Inti genealogi KITQN terletak pada dua tokoh: selain Syekh Abdul Muhyi sendiri yang diberi gelar Safaril Wadin Pamijahan, dan juga Kanjeng Dalem Tumenggung Wiradadaha, Bupati Sukapara (nama lama Kabupaten Tasikmalaya) yang hidup sezaman. Perbedaannya, yang pertama memainkan peran sebagai ulama sedangkan yang kedua lebih berperan sebagai penguasa (umara).

Untuk memperkuat perannya sebagai ulama, di dalam naskah KITQN disebutkan ada tiga guru tarekat yang diwarisi tasawuf Pamijahan yaitu: Abdul Qadir Jaelani, Abdul Jabbar dan Abdul Rauf Singkel. Apabila Abdul Qadir Jaelani disebut sebagai ‘wali awal’, maka Abdul Muhyi dianggap sebagai ‘wali penutup’. Kedudukan ini memang dibuktikan oleh kenyataan bahwa setelah wafatnya, keturunan Abdul Muhyi tidak lagi menggunakan gelar Syekh. Istilah ‘wali penutup’ memang menjadi pertanyaan, sebab dalam sejarah Islam wali akan tetap ada setiap zaman, tetapi hanya para ‘wali’ yang mengetahui keberadaan seorang ‘wali’.

Yang penting dari naskah itu dapat dicatat dua hal, pertama turunan Nabi dan kedua turunan raja. Di dalam naskah KITQN disebutkan bahwa sebagai ‘turunan’ nabi dirinya merupakan keturunan ke-15 dihitung dari Fatimah. Dengan begitu kedudukannya sebagai ulama menjadi kuat, karena ia adalah keturunan nabi dari garis Husein, putera Fatimah. Hal itu didukung pula oleh keterangan bahwa Syekh Abdul Muhyi juga adalah murid Syekh Abdul Rauf Singkel, salah seorang ulama Aceh terkemuka pada abad XVII yang dimakamkan di Kuala Aceh dan terkenal sebagai guru tarekat Satariyah. Lebih dari itu, dilihat dari genealoginya, Syekh Abdul Rauf Singkel juga keturunan Nabi yang ke-13 dari garis Hasan, putera Fatimah. Pada cabang inilah terdapat Abdul Qadir Jaelani al-Bagdadi yang terkenal sebagai pengasas tarekat Qadariyah Naqsabandiyah. Derajat kewalian Syekh Abdul Muhyi semakin kuat, karena antara Nabi dan dirinya terdapat urutan tokoh yang menjadi salah satu dari ‘Wali Songo’, yaitu Sunan Ampel dan Sunan Giri.

Sebagai keturunan raja, KITQN tidak banyak menyebutkan garis silsilah bapak, tetapi dijelaskan di dalam naskah lain yang disebut Sejarah Sukapura (SS), yaitu dari Ratu Galuh. Ayah Syekh Abdul Muhyi yang bernama Lebe Warta(kusuma) adalah keturunan ke-6 dari Ratu Galuh. Perkawinan Lebe Warta dengan Sembah Ajeng Tangan Ziah melahirkan dua orang anak: pertama adalah Syekh Abdul Muhyi dan kedua adalah Nyai Kodrat (menjadi isteri Khotib Muwahid). Dari Khotib Muwahid ini Syekh Abdul Muhyi mempunyai hubungan kekerabatan tidak langsung dengan Sultan Pajang, Pangeran Adiwijaya (Jaka Tingkir), karena yang terakhir ini merupakan leluhur Sembah Khotib Muwahid.

Namun, baik naskah KITQN maupun SS, tidak banyak menyebutkan garis keturunan Bapak ke atas, sebaliknya lebih rinci menguraikan keturunan ke bawahnya seperti juga diuraikan di dalam Silsilah Bupati Sukapura (naskah Leiden Cod. Or. 7445). Genealogi dimulai dari empat orang isteri Syekh Abdul Muhyi, itupun terutama dari isteri yang pertama (Sembah Ayu Bakta) sebagai leluhur para bupati Sukapura dari pihak ibu.

Dari teks manuskrip-manuskrip tersebut dapat diketahui bahwa motivasi penyusunan naskah adalah menyatakan hubungan kekerabatan penulis manuskrip dengan Syekh Abdul Muhyi, Sembah Khotib Muwahid dan para bupati Sukapura. Namun yang terpenting ada pesan yang ditekankan pada pragmatisme kewalian Syekh Abdul Muhyi, yang sesudahnya tidak ada lagi ‘wali’ dari garis keturunan para Bupati Sukapura tersebut. Meskipun sudah tentu ada wali-wali lain di setiap zaman dan tempat, tetapi ini berlaku pasti di Pamijahan.


SYIAR ISLAM DAN TRADISI ZIARAH KUBUR
Berbeda dengan riwayat keturunannya, aktivitas keagamaan Syekh Abdul Muhyi tidak banyak informasi diperoleh. Dalam kedudukannya sebagai penyebar Islam, kisahnya sulit dilacak. Hal ini barangkali disebabkan karena pada umumnya para ulama, apalagi jika ia telah mencapai derajat ‘wali’, hal-hal yang bersifat popularitas sangat dihindari, sehingga kehidupan keagamaannya selalu berkembang dari legenda ke legenda dan dari mitos ke mitos.

Demikian pula dengan Syekh Abdul Muhyi. Kebanyakan informasi diperoleh dari legenda-legenda atau tradisi lisan masyarakat Pamijahan atau para murid dan penganut disiplin Satariyah. Dalam tradisi setempat, Abdul Muhyi datang ke Pamijahan melalui Darma, Kuningan. Pengetahuan agamanya diperoleh setelah berguru kepada Sunan Giri. Kemudian dilanjutkan dengan berguru kepada Syekh Abdul Rauf Singkel di Aceh, yang memungkinkannya sampai di Bagdad dan berhasil mewarisi ajaran Abdul Qadir Jaelani. Sekembalinya ke tanah air, ia diperintahkan gurunya di Aceh untuk menemukan sebuah gua yang serupa dengan gua tempat tirakatnya Abdul Qadir Jaelani. Setelah bertahun-tahun menelusuri daerah pedalalaman Jawa Barat bagian tenggara, akhirnya ia sampai di Pamijahan. Gua yang ditemukannya di desa itu diberi nama Munajat, dan mendirikan kampung dinamai Saparwadi. Tetapi di kemudian hari kampung itu lebih dikenal dengan nama Pamijahan; istilah yang diberikan untuk menandai kedatangan banyaknya peziarah seperti ikan yang bertelur di gua Saparwadi.

Secara umum, bisa dikatakan bahwa syiar Islam dilakukan dengan melalui jalan tasawuf. Mula-mula memperkenalkan tarekat Qadariyah; sebuah aliran yang banyak dikenal di Tanah Sunda sebagaimana dibuktikan oleh banyaknya manuskrip tarekat ini (Ekadjati dan Darsa, 1999: 426-522). Namun kemudian ajaran tersebut semakin mengkristal menjadi Tarekat Mu’tabarah Syatariyah. Ajaran ini ditandai oleh berbagai varian cara pendekatan diri kepada Sang Pencipta yang rupanya amat sesuai dengan tradisi lama masyarakat Sunda.

Sayangnya kami tidak menemukan bukti pesantren tertua di Pamijahan, namun jika penyebaran Islam dilakukan melalui jalan tasawuf, artinya telah terjalin hubungan kekerabatan spiritual antara sang guru dan muridnya. Melalui murid-murid tarekat itulah kemudian ajaran Islam berkembang. Cara seperti ini sudah tentu memberikan kemungkinan meluasnya jaringan Islam dalam metode yang homogen. Dan dari setiap murid itulah akan tercipta kutub-kutub pengajaran Islam lainnya, yang meskipun tetap terfokus pada pusat suci Pamijahan, pusat-pusat penyebaran lainnya dikesankan sebagai satelit-satelit yang mengelilingi sistem tata surya dari pusat cahayanya. Dan pusat cahaya yang pertama itu sendiri sesungguhnya menjadi satelit dari kutub suci utamanya di Mekah.

Praktek keagamaan dari tarekat ini tercermin pada perilaku ziarah di Pamijahan, seperti halnya juga dilakukan di kompleks makam Sunan Gunung Jati, Cirebon. Menurut Viviane Sukanda-Tessier (1991), pada prinsipnya, dalam ritual tersebut para peziarah meyakini bahwa ziarah (tawaf) di kompleks makam Sunan Gunung Jati dan Syekh Datuk Kahfi, Cirebon sama nilainya dengan pergi haji ke tanah suci Mekkah. Demikian pula, ziarah ke makam Syekh Abdul Muhyi dan dilanjutkan dengan penerebotan gua Saparwadi, dianggap ekivalen dengan pergi haji ke Mekkah. Anggapan ini direpresentasikan oleh tingkat keistimewaannya dalam penetrasi gua Saparwadi. Kecuali mengandung sifat-sifat keajaiban alam juga mengandung nilai mistis.

Keistimewaan itu pertama-tama terletak pada kesukaran ketika memasuki dan mencari jalan keluarnya. Setelah berada di dalam gua, orang dapat menemukan tempat keramat / pertapaan yang konon merupakan warisan Syekh Abdul Muhyi seperti jalan ghaib menunju berbagai jurusan: Mekah, Madinah, Cirebon, Banten, dan Surabaya (Gresik).

Dalam prakteknya, ziarah pada umumnya dipandu oleh kuncen (juru kunci). Para peziarah membaca al-Quran, surat al-Ikhlas, al-Falaq, An-Nas, istighfar, shalawat, mengingat jasa guru dan zikir, yang seterusnya memanjatkan doa. Termasuk ke dalam disiplin ini, di daerah inti Pamijahan terdapat beberapa perilaku yang wajib ditaati pengunjung, seperti dilarang merokok, naik sepeda dengan atau tanpa motor (Abdullah Apap dan Abdullah Miftah, 1984).


WISATA MINAT KHUSUS
Sekarang, ketika ideologi politik telah berubah, tanda-tanda kewaliannya tidak serta merta terhapus. Tantangan dan perjuangan baru selalu dihadapi masyarakat. Dalam konteks ini, murid-murid tarekat Syatariyah senantiasa menjaga kesucian tempat sang wali di Pamijahan. Fungsinya tidak lain sebagai ‘pelayan’ spiritual bagi sebuah komunitas besar di Jawa Barat. Jalan tarekat sebagai disiplin baku bisa ditempuh melalui pusat-pusat baru yang didirikan murid-muridnya di berbagai pesantren, tetapi cara-cara umum berziarah pun selalu menjadi akses bagi para awam untuk mengenang keteladanan sang wali.

Oleh karena itu perjalanan-perjalanan ziarah semakin penting sekarang, bukan saja bagi para murid tarekat, melainkan juga masyarakat luas dari berbagai golongan, ras dan paham keagamaan. Dalam hal ini, Pamijahan dapat menjadi jaminan untuk memperoleh hak-hak spiritual mereka, apakah itu untuk memperoleh solusi atas kesulitan keseharian (kepapaan material) atau sekadar memenuhi kebutuhan spiritual yang ingin lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta, yakni kealpaan dalam menjalani syariat Islam.

Maka ziarah ke Pamijahan adalah salah satu solusi kongkrit. Secara simbolik, ziarah semacam itu merepresentasikan perjalanan fisik yang pada gilirannya menjadi media ke arah perjalanan mistik (ghaib). Dengan mengunjungi makam dan petilasan Syekh Abdul Muhyi (termasuk menerobos gua Saparwadi), para peziarah akan menemukan dunia spiritual yang sangat individual. Penetrasi metafisik itu pada akhirnya memberikan kepuasan batin; sebuah pengalaman yang tidak dapat ditemukan pada obyek-obyek wisata lain.

Keberadaan institusi pakuncenan pada kenyataanya bukan sekedar ‘juru kunci’ yang melayani prosesi ziarah, tetapi sekaligus penjaga tradisi baku yang berlaku di Pamijahan. Antisipasi masyarakat Pamijahan pun telah mendukung meningkatnya kegiatan ziarah tahunan. Popularitas Pamijahan semakin hari semakin luas tidak hanya di Jawa Barat, tetapi juga seluruh Jawa. Seperti juga makam para wali lainnya di pesisir utara Jawa, Pamijahan selalu menarik puluhan ribu pengunjung pada setiap kalender hari raya Islam tahunan.

Hikmah besar ini sekarang dirasakan amat positif bagi dinamika kehidupan masyarakat Pamijahan. Harus diakui, keramat Pamijahan sekarang menjadi salah satu sektor pendapatan masyarakat yang penting, dan sudah tentu mendukung peningkatan ekonomi daerah, khususnya di Kabupaten Tasikmalaya.


KESIMPULAN
Pengumpulan data lapangan di Pamijahan, dengan segala keterbatasan data yang diperoleh, setidaknya telah mengisi kekosongan pengetahuan berkenaan dengan pengkultusan orang-orang suci Islam seperti misalnya Syekh Abdul Muhyi. Dengan penelitian ini sedikit kesulitan kita untuk memahami mentalitas dan religiusitas Islam di pedalaman Jawa Barat dapat diminimalkan. Dengan begitu, dalam mencermati gejala-gejala yang kerap dikategorikan sebagai ‘penyimpangan’ teologis, atau bahkan juga sejenis pengisolasian diri dari realitas-realitas kehidupan yang penuh dengan tantangan, dapat segera memunculkan isu akademik untuk mengkajinya secara lebih objektif.

Dengan terungkapnya semua fenomena kekeramatan Pamijahan yang telah nyata menjadi sumber magnet ziarah keagamaan, ‘ongkos’ yang bisa dikembalikan diharapkan berupa pengayaan kualitas ziarah yang telah memberi nuansa signifikan bagi pariwisata budaya spesifik dalam ranah keagamaan Islam. Konsep yang nanti bisa dikembangkan bagi segmen kegiatan itu sudah tentu mengarah pada pengisian entitas-entitas budaya Indonesia sebagai, memang semestinya, ‘payung’ bagi pengembangan pariwisata daerah.

Keberadaan makam dan tempatnya melakukan tirakat di Gua Saparwadi, di tepi sungai Pamijahan, telah menjadi bukti kongkrit dari akhir perjalanan hidupnya yang diabdikan untuk menyebarkan ajaran agama dan menjaga moral masyarakat yang pada waktu itu sedang berada di bawah bayang-bayang kekuasaan Belanda setelah kekalahan Kesultanan Mataram.

Beberapa pakar telah mencoba mengungkapkan pentingnya situs Pamijahan ini sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa Barat. Dari segi arkeologis, sudah tentu daerah aliran sungai Cipamijahan dan cabang-cabangnya harus tetap diwaspadai sebagai lokasi hunian purba, yang mungkin sudah berlangsung sejak zaman prasejarah. Namun hasil penelitian ini baru memperoleh data-data awal tentang okupasi situs sejak awal abad XVII Masehi, setelah masyarakat setempat memeluk Islam.

Sesungguhnya bentang alam Pamijahan tidak ada yang istimewa, karena di hampir semua tempat di pegunungan selatan banyak ditemukan gua-gua alam, baik berupa ceruk dangkal ataupun rongga besar yang mengandung air atau mungkin bekas aliran sungai bawah tanah. Tetapi justeru karena kedatangan Syekh Abdul Muhyi dan kegiatan da’wahnya di tempat itu, menyebabkan Pamijahan menjadi penting. Unsur-unsur alam yang semula hanya sebagai sumber air yang digunakan bagi keperluan irigasi persawahan, dan bukit-bukit terjal yang rimbun justeru semakin menjadi pendukung berfungsinya tempat itu sebagai salah satu pusat kekeramatan.

Dua elemen penting dengan demikian menjadi faktor menentukan bagi keberlangsungan kegiatan wisata ziarah: alam itu sendiri dan keberadaan sang ‘wali’. Beberapa informasi lisan telah memberikan data pengunjung yang luar biasa besarnya; terutama pada hari besar Islam seperti bulan Rabbi’ul Awwal (kelahiran Nabi), bulan Sya’ban (menjelang ibadah ramadhan) dan bulan Muharram (tahun baru Hijriyah), peziarah bisa mencapai 20-30 ribu orang dalam rentang dua sampai tiga hari berturut-turut. Besarnya jumlah pengunjung sudah tentu membawa dampak luas bagi kehidupan ekonomi setempat, tetapi bisa juga memberi dampak negatif: menurunnya daya dukung alam, ketersediaan air bersih misalnya dan ketergantungan umum pada ekonomi ziarah.

REKOMENDASI
Salah satu masalah yang perlu direnungkan kembali adalah bahwa kegiatan ziarah besar itu selalu memerlukan air yang cukup besar. Air bersih terutama dibutuhkan untuk membersihkan diri, berwudhu dan juga yang terpenting menjadi sejenis ‘bekal’ karena adanya kepercayaan ‘air suci’ (zamzam). Sebaliknya, air sungai atau air tanah yang tersedia telah lama dimanfaatkan untuk mengairi persawahan yang luas di seluruh daerah perbukitan dan lembah-lembah sungai. Seperti diketahui, meskipun selalu ada penghasilan dari layanan perjalanan ziarah, tetapi pertanian masih tetap menjadi sektor ekonomi andalan masyarakat Pamijahan. Karena dua kegunaan ini, ketersediaan air harus terbagi, untuk pertanian dan juga untuk kegiatan ziarah, disamping keperluan sehari-hari yang semakin hari semakin dipadati penduduk. Menghadapi masalah ini, terutama di musim kemarau, banyak kalangan mengusulkan agar disediakan sumber air alternatif.
Sudah tentu, dalam hal ini, masalah tersebut tidak dapat ditangani sendiri oleh masyarakat Pamijahan. Oleh karena itu diperlukan suatu rencana regional yang memungkinkan direalisasikannya program penyediaan air bersih oleh pihak yang berwenang, khususnya Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya.
Berkenaan dengan ketahanan ekonomi ziarah, sudah tentu pendapatan masyarakat akan meningkat hanya pada kesempatan kalender Islam tahunan, sedangkan sehari-hari menjadi amat berkurang seiring dengan jarangnya pengunjung. Oleh karena itu perlu dipikirkan untuk merancang Pamijahan dalam bingkai diversifikasi wisata dengan menciptakan lahan-lahan baru obyek kunjungan (tourist destination), yang bukan hanya ziarah saja, tetapi obyek-obyek wisata alam dan budaya lain bagi segmen wisatawan lain. Sebagai contoh, bisa disebut misalnya potensi pegunungan selatan Tasikmalaya yang memiliki perbukitan dan hutan lindung serta perkebunan teh. Dalam kerangka ini, paket-paket wisata memberi banyak pilihan, wisata ziarah, tea-walk, hicking serta bumi perkemahan seperti halnya di taman nasional Cibodas atau perkebunan teh di kawasan Puncak antara Bogor dan Cianjur.

BUYA IMA IBNU FACHRU ROZI


Daftar Pustaka
Abdullah dkk., Taufik. 1991. Sejarah Ummat Islam Indonesia, Jakarta: Majelis Ulama Indonesia.

Ambary, Hasan Muarif. 2001. ‘Sunan Gunung Jati dan Peranan Cirebon sebagai Pusat Perkembangan dan Penyebaran Islam, Tinjauan dari Perspektif Arkeologi’, makalah pada Seminar Nasional Sejarah Sunan Gunung Jati dan Pengembangan Pariwisata Budaya Islam, Cirebon, 22-23 April 2001, IAIN Sunan Gunung Jati.

Ambary, Hasan Muarif. 1991. ‘Makam-Makam Kesultanan dan Para Wali di Pulau Jawa’, Aspek-Aspek Arkeologi Indonesia, No. 12, Jakarta : Puslit Arkenas.

Apap, R. Abdullah & R. Haji Abdullah Miftah. 1984. Sejarah Pamijahan. Kisah Perjuangan Syekh Haji Abdul Muhyi Mengembangkan Agama Islam di Sekitar Jawa Barat, Tasikmalaya: Pemerintah Desa & Kuncen Pamijahan.

Baldick, Julian. 1989. Mystical Islam, London: Mcmillan

Chodkiewicz, Michel. 1995. ‘La Saintete et les Saints en Islam’, in Henri Chambert-Loir & Claude Guillot, Le Culte des Saints dans le Monde Musulman, Paris : EFEO.

Djadiningrat, Hoesein. 1983. Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten, Jakarta : Penerbit Djambatan.

Chambert-Loir, Henri & Claude Guillot. 1995. Le Culte des Saints dans le Monde Musulman, Paris : EFEO.

Ekadjati, Edi S. & Undang S. Darsa. 1999. Jawa Barat Koleksi Lima Lembaga, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia – EFEO.

Ikyan Sibawaih. 2001. ‘Syarif Hidayatullah dalam Perspektif Kewalian’, makalah pada Seminar Nasional Sejarah Sunan Gunung Jati dan Pengembangan Pariwisata Budaya Islam, Cirebon, 22-23 April 2001, IAIN Sunan Gunung Jati.

Noorduyn, J. 1962. ‘Het begingedeelte van de Carita Parahyangan’, BKI, 118 : 405-432.

Sukanda-Tessier, Viviane. 1977. ‘Le Triomphe de Sri en pays soundanais’, BEFEO, vol. CI.

Sukanda-Tessier, Viviane. 1990. ‘Dari Kean Santang ke Pamijahan: Sebuah Proses Islamisasi awal sampai abad ke-18’, Proceedings Seminar Sejarah dan Budaya II Tentang Galuh, Tasikmalaya: Yayasan Universitas Siliwangi.

Suryanegara, Ahmad Mansur. 1990. ‘Kitab Istiqlal Qadariyah Naqsabandiyah’, Proceedings Seminar Sejarah dan Budaya II Tentang Galuh, Tasikmalaya: Yayasan Universitas Siliwangi.

Tjandrasasmita, Uka. 1991. ‘Notes on the reflection of the Holy Mountain conception of some temples in Indonesia and Cambodia’, paper on presented on the Symposium on Historic Cities in Lower Northeastern Thailand, Sophia University Project, Japan.

Wessing, Robert. 1990. ‘Perubahan Wujud di Hutan Sancang: Mitos dan Sejarah di Jawa Barat’, Proceedings Seminar Sejarah dan Budaya II Tentang Galuh, Tasikmalaya: Yayasan Universitas Siliwangi.

Moh. Ali Fadillah adalah peneliti pada Asdep Litbang Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta.

BUYA IMA IBNU FACHRU ROZI




0 komentar:

Poskan Komentar

my Child

?????:

sumbere background